BOJONEGORO – Memasuki musim kemarau 2026 yang telah berlangsung selama kurang lebih dua bulan, sejumlah wilayah di Kabupaten Bojonegoro mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Salah satu wilayah yang terdampak kekeringan adalah RT 18/RW 08, Dusun Sambirobyong, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro. Daerah yang berada di kawasan perbukitan dan dikelilingi hutan tersebut telah mengalami kekeringan selama kurang lebih satu bulan.

Sumur-sumur milik warga mulai mengering dan tidak lagi mengeluarkan air. Kondisi tersebut membuat warga terpaksa membeli air bersih dengan harga sekitar Rp1.000 per jeriken. Sementara itu, apabila tidak membeli air dari penjual, warga harus turun gunung sejauh kurang lebih 5 kilometer untuk mengambil air dari dusun lain.
Kondisi tersebut kemudian diketahui oleh Lembaga Manajemen Infaq (LMI), yang segera mengambil langkah untuk membantu warga yang terdampak kekeringan.
Pada Kamis, 23 Juli 2026, LMI menyalurkan bantuan sebanyak 10.000 liter air bersih ke Dusun Sambirobyong. Dengan medan yang naik turun bukit serta sebagian jalan masih berupa tanah liat, tim LMI bersama truk pengangkut air bersih akhirnya tiba di lokasi sekitar pukul 15.30 WIB.
Setelah selang dari truk diarahkan ke tempat penampungan air, warga langsung bergegas mengambil air bersih yang telah didistribusikan.
“Kami memilih lokasi Sambirobyong untuk program dropping air karena memang benar-benar membutuhkan. Lokasinya terpencil, medannya cukup jauh, dan warga mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih,” ujar Resma Edhi Satria, perwakilan LMI.
Sementara itu, Sutaji, salah satu warga Sambirobyong, menyampaikan bahwa kebutuhan air bersih warga di wilayah tersebut mencapai kurang lebih 10.000 liter untuk memenuhi kebutuhan selama tiga hingga empat hari.
Ia pun menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan air bersih yang diberikan oleh LMI.
“Mudah-mudahan pahala kebaikan para donatur LMI dibalas dengan kebaikan oleh Allah SWT,” pungkas Sutaji.
Kontributor : Rezma
