Daerah  

Proyek Drainase Bojonegoro Krisis: Siswi Terjatuh, Jalan Rusak, Kualitas Pengerjaan Diragukan, LSM Kecewa Sikap Dinas PU

admin
Oplus 131072
Oplus_131072

Bojonegoro, 31 Oktober 2025 – Proyek pembangunan drainase di Jalan Panglima Polim, Kecamatan Bojonegoro, semakin menjadi sorotan tajam dan menuai gelombang protes dari berbagai pihak. Setelah insiden seorang siswi SMKN 1 Bojonegoro terperosok ke dalam galian proyek pada Selasa (28/10/2025), kini masyarakat semakin geram dengan temuan dugaan pelanggaran spesifikasi, kerusakan jalan akibat penggunaan alat berat, serta kualitas pengerjaan yang diragukan.

Perkumpulan Independen Peduli Rakyat Bojonegoro (PIPRB) telah melayangkan surat permohonan resmi kepada Bupati Bojonegoro pada 28 Oktober 2025, mendesak penghentian penggunaan excavator roda besi dalam proyek tersebut. Manan, Ketua PIPRB yang beralamat di Jalan Kapten Rameli Lorong 5 Ledok Wetan Bojonegoro, mengungkapkan bahwa surat tersebut menyoroti sejumlah temuan krusial di lapangan, termasuk tidak adanya papan informasi proyek, minimnya safety line, penggunaan excavator roda besi yang merusak jalan beraspal, serta pemasangan U-ditch tanpa pengurasan air.

“Kami memohon kepada Bapak Bupati untuk memerintahkan jajaran terkait agar menghentikan penggunaan excavator roda besi, karena terbukti merusak jalan dan berpotensi membahayakan pengguna jalan,” tegas Manan.

Lebih lanjut, Manan juga menyoroti dugaan pengurangan spesifikasi teknis dalam proyek tersebut. “Seharusnya ada lantai dasar sebagai alas saluran, agar air tidak merembes dan konstruksi menjadi kuat. Jika tidak ada, ini bisa mempercepat kerusakan. Tanpa adanya lantai dasar, air limpasan berpotensi merembes ke bawah saluran, menyebabkan penurunan struktur dan retak dini pada beton U-Ditch. Jika hal ini benar terjadi, nilai manfaat proyek akan berkurang jauh sebelum masa garansi berakhir,” tambahnya.

Insiden siswi yang terjatuh ke dalam galian proyek semakin memperburuk citra proyek ini. Lubang galian yang dipenuhi air tanpa tanda pengaman yang memadai dinilai sebagai bentuk kelalaian kontraktor dan kurangnya pengawasan dari dinas terkait. “Tidak hanya itu, bahkan kemarin sempat memakan korban anak SMKN 1 Bojonegoro yang terperosok masuk ke dalam gorong-gorong, karena tidak ada police line-nya,” ungkap Manan.

Manan menyayangkan sikap Dinas PU Cipta Karya yang dinilai enggan menindaklanjuti berbagai pemberitaan terkait proyek tersebut dan terkesan melakukan pembiaran.

Hal yang sama diungkapkan oleh salah satu warga bojonegoro yang juga mengeluhkan kualitas pengerjaan drainase yang dinilai tidak sesuai standar. Pemasangan U-ditch tanpa pengurasan air di dasar galian dikhawatirkan dapat mengurangi daya tahan dan efektivitas saluran air. “Bagaimana kualitasnya bisa dijamin kalau air tidak dikuras? Apakah elevasi dan fungsi alirannya bisa maksimal?” tanya seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Hingga saat ini, Dinas PU Cipta Karya Kabupaten Bojonegoro belum memberikan keterangan resmi terkait berbagai permasalahan yang muncul. Masyarakat menuntut agar pemerintah daerah segera melakukan audit menyeluruh terhadap proyek tersebut dan mengambil tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab.

“Kami meminta pemerintah daerah untuk transparan dan segera melakukan evaluasi. Jangan sampai proyek ini hanya menghambur-hamburkan uang rakyat tanpa memberikan manfaat yang maksimal. Kejadian ini bukan sekadar soal drainase yang tidak berdasar beton, melainkan juga soal integritas dan akuntabilitas pengelolaan uang rakyat,” pungkas salah seorang warga dengan nada geram.

Penulis : Ciprut laela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *