Bojonegoro – Program Makanan Bergizi (MBG) untuk balita di Desa Karangdowo, Kecamatan Sumberjo, Kabupaten Bojonegoro, menuai kritik tajam dari warga. Pasalnya, menu yang disajikan dinilai monoton, porsi sangat minim, dan bahkan sayuran yang diberikan diduga basi.
Salah seorang warga Desa Karangdowo yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa menu MBG untuk balita tidak pernah berubah. “Menunya itu-itu saja,” ujarnya dengan nada kecewa.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh orang tua penerima MBG lainnya, mereka menyatakan bahwa menu untuk hari Senin, Selasa, dan Rabu digabung menjadi satu dan diberikan pada hari Senin. Ironisnya, makanan yang diterima hanya berupa jagung rebus satu buah dan dua buah jeruk. Jika mendapat nasi, hanya ada nasi dan sayur lodeh, itupun seringkali sudah basi dan tidak layak dikonsumsi.
“Sayur lodehnya sering basi, tidak bisa dimakan. Anak saya jadi tidak mau makan,” keluh seorang ibu.
Hal yang sama diungkapkan oleh salah satu orang tua siswa dari salah satu SD Kecamatan Sumberjo mengatakan, porsi 10 ribu kalau dimasak dirumah menunya masih bisa dilihat secara mata, tapi kalau dari program MBG ini ya allah tidak pantas sekali, ini bukan pemenuhan gizi, dimana gizinya jika hanya dapat telur dadar tipis seperti tisu dan kecil sekali. Apa kurang ya keuntungannya miris lihatnya.
Dapur MBG untuk anak-anak Karangdowo diketahui berlokasi di Desa Jatigede, Kecamatan Sumberjo, dan diduga milik oknum anggota DPRD Komisi C berinisial (S) dari partai Golkar, hal itu diungkapkan oleh Kepala Desa Djatigede Kecamatan Sumberjo Kabupaten Bojonegoro saat dikonfirmasi pada Kamis (18/09/2025).
“Iya memang benar diropel-ropel karena dapatnya MBG juga tidak menentu jam ya, kadang jam 9 pagi, kadang jam 11 siang, kadang juga jam 1 siang, maka dari itu diropel langsung. Untuk pemilik dapurnya sendiri itu anggota DPRD bojonegoro dari partai Golkar bernama (S) , tambahnya.
Lebih jelas ungkap Kades, memang katanya permintaan dari warga, karena kalau menunggu kiriman MBG ya tidak bisa bekerja karena waktu ya tidak menentu. Jika dilihat dari menu ya-kan untuk jagung dan jeruk itu menu kering makanya hanya dapat jagung 1 buah dan 2 buah jeruk saja.
Jumat (19/09/2026) Menanggapi hal ini, seorang aktivis dan juga Ketua LSM PIPRB (Lembaga Independen Peduli Rakyat Bojonegoro) Kabupaten Bojonegoro yang beralamat di Jalan Kapten Rameli Lorong 5 Ledok Wetan Bojonegoro, angkat bicara.
Kami menilai bahwa jika MBG diberikan dengan cara “diropel” (digabung), maka program tersebut tidak bisa disebut sebagai makanan bergizi, dan jelas menyalahi SOP yang ada.
“Dari mana gizinya kalau menunya diropel, apalagi tidak ada ikannya juga ! Nilai satu menu saja tidak sampai sepuluh ribu,” seharusnya program yang dianggap unggulan oleh pemerintahan bapak Prabowo Subianto ini, diawasi dengan ketat, karena sejak awal banyak kalangan yang menduga untuk sarang korupsi berjamaah” ujarnya dengan nada geram.
Aktivis tersebut juga menambahkan bahwa program MBG ini lagi-lagi hanya diperuntukkan bagi orang kaya, dengan menunjuk pada pemilik dapur yang diduga merupakan oknum anggota DPRD. “Dasar memang diotaknya mafia, tidak heran kalau menunya tidak bergizi.
Bukankah dan seharusnya setiap satuan ada ahli gizinya ?
Kalau begini lama-lama anak-anak bisa keracunan karena memakan sayur basi,” tegasnya.
Diwaktu yang sama Oknum anggota DPRD (S) dari fraksi Golkar saat dikonfirmasi melalui sambungan selulernya terkait MBG di karang dowo, membenarkan bahwa dapur MBG tersebut miliknya. Ia juga membenarkan adanya praktik “ropel” pembagian makanan dengan alasan yang sama, yaitu atas permintaan masyarakat. Namun, pernyataan ini menimbulkan keraguan, mengingat potensi konflik kepentingan yang ada.
Dari kejadian ini warga penerima MBG di Desa Karangdowo berharap pihak berwenang segera melakukan investigasi dan mengambil tindakan tegas jika ditemukan adanya penyimpangan dalam pelaksanaan program MBG ini.
Penulis : Ciprut laela
