Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani menerima “kado” tak biasa di hari ulang tahunnya, seratus karangan bunga berisi pesan keprihatinan mendalam atas nasib guru dan dosen di seluruh Indonesia. Karangan bunga ini berjejer di depan kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Rabu (26/8/2025), menyampaikan kritik pedas terhadap kebijakan pendidikan tinggi.
Salah satu pesan yang tertulis di karangan bunga berbunyi, “Ultahmu Dirayakan Hak Dosen Dilupakan. Ingat Tukin Dosen Bukan Beban, tapi Utang!” Pesan lainnya berbunyi, “Jika Kami Bukan Beban Kesejahteraan Kami Mohon Ditingkatkan.”

Ketua DPW Aliansi Dosen Akademik dan Kevokasian Seluruh Indonesia (ADAKSI), Imam Akhmad, mengungkapkan bahwa aksi ini awalnya direncanakan dengan 63 karangan bunga, sesuai usia Sri Mulyani. Namun, antusiasme para dosen membuat jumlahnya membengkak menjadi 100.
“Pengiriman sebenarnya ada 63 karangan bunga, tapi karena banyak yang semangat akhirnya ada 100, bahkan ini tadinya lebih dari 100, tapi karena kami batasi,” kata Imam Akhmad dalam siaran video detik20, Kamis (28/8/2025).
Pantauan cakrawalahukumnews.com di media sosial X menunjukkan bahwa aksi ini merupakan bentuk protes terhadap kapitalisasi pendidikan tinggi yang dianggap bertentangan dengan amanat konstitusi dan ideologi Pancasila.
“Aksi Karangan Bunga sebagai bentuk protes moral terhadap semakin maraknya kapitalisasi pendidikan tinggi dengan dalih partisipasi publik untuk pembiayaan pendidikan. Kebijakan tersebut kami nilai bertentangan dengan amanat konstitusi dan tidak sesuai dengan ideologi Pancasila khususnya dalam bidang pendidikan,” tulis ADAKSI dalam surat yang beredar di media sosial.
Aksi ini juga dipicu oleh beredarnya potongan video viral yang menampilkan Sri Mulyani seolah-olah menyebut guru sebagai beban negara. Meskipun klaim ini telah dibantah oleh Kemenkeu sebagai hoaks hasil deepfake, isu ini telah memicu kemarahan di kalangan pendidik.
Mengutip dari situs resmi Kementrian Keuangan, Sri Mulyani Indrawati lahir di Bandar Lampung pada 26 Agustus 1962. Ia meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia (1986), serta gelar Master of Science in Policy Economics (1990) dan Ph.D. di bidang Ekonomi (1992) dari University of Illinois at Urbana-Champaign. Sebelum menjabat sebagai Menteri Keuangan, ia pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif IMF, Menteri PPN/Kepala Bappenas, dan Direktur Pelaksana Bank Dunia.
Penulis : Ciprut laela
