Bojonegoro – Mengambil pelajaran dari kejadian diare massal yang pernah menimpa 300 siswa di salah satu SMP di Bojonegoro akibat program makanan bergizi (MBG), Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro kini mengeluarkan serangkaian arahan ketat. Arahan ini disampaikan dalam sebuah pertemuan di Kecamatan Kapas oleh dr. Lucky, Kasubag Kesmas Dinkes Bojonegoro, dengan tujuan utama meningkatkan keamanan dan kualitas MBG di sekolah-sekolah.
Dr. Lucky menekankan pentingnya pencegahan kontaminasi dan pembusukan makanan. “Buah tidak boleh dicampur di dalam kotak makan bersama makanan lain. Ini dapat menyebabkan kontaminasi bakteri dan mempercepat pembusukan,” tegas dr. Lucky, seraya meminta sekolah untuk menyampaikan aturan ini kepada SPPG (Supplier Pangan Bergizi).
Beberapa poin penting dari arahan yang dikeluarkan meliputi:
– Pembentukan Tim Pengawas Makanan: Setiap sekolah wajib membentuk tim pengawas yang bertugas membau, mencicipi, dan mencium makanan MBG yang baru tiba sebelum didistribusikan kepada siswa. Tim ini juga bertanggung jawab memastikan makanan diletakkan di tempat yang bersih dan higienis.
– Jadwal Pengiriman MBG yang Ketat:
– Untuk siswa SD kelas 5-6, SMP, dan SMA (Kloter 2), MBG harus tiba pukul 11.00 WIB.
– Untuk anak PAUD, TK, dan SD kelas 1-4 (Kloter 1), MBG maksimal tiba pukul 09.00 WIB. Batasan waktu ini penting karena makanan akan basi setelah 7 jam sejak proses pengemasan, mengingat program ini adalah makanan siang gratis. Sekolah diminta segera melapor ke SPPG jika jadwal tidak sesuai.
– Pengelolaan Sisa Makanan dan Sampah : Sisa makanan tidak boleh dibawa pulang oleh siswa karena merupakan bahan evaluasi bagi SPPG terkait kualitas. Sampah makanan MBG juga tidak boleh dibuang di sekolah, melainkan harus dimasukkan kembali ke dalam kotak makan, yang menjadi tanggung jawab SPPG.
– Tanggung Jawab Kebersihan Kotak Makan : Kotak makan tidak perlu dicuci oleh siswa karena menjadi tanggung jawab SPPG.
– Pelaporan Kejadian Luar Biasa (KLB) : Jika terjadi KLB seperti diare, pihak sekolah wajib segera melaporkan ke Puskesmas Kapas. Peringatan ini sangat ditekankan mengingat pengalaman pahit di Bojonegoro sebelumnya.
“Kejadian di SMP Bojonegoro menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Dengan arahan ini, kami berharap dapat mencegah terulangnya insiden serupa dan memastikan program makanan bergizi gratis benar-benar memberikan manfaat kesehatan bagi anak-anak kita,” pungkas dr. Lucky. Pihak sekolah dan SPPG diharapkan dapat bekerja sama secara maksimal demi terwujudnya lingkungan sekolah yang sehat dan aman.
Penulis : Ciprut laela
