Jawa Timur – Di tengah maraknya keluhan pungutan liar (pungli) yang menghantui dunia pendidikan Jawa Timur, Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, justru memilih jalur aman: fokus pada seruan dedikasi dan sinergi. Dalam rapat koordinasi bersama para petinggi pendidikan se-Jatim, Senin (11/8) , isu krusial pungli seolah menjadi “anak tiri” yang tak pantas dibahas.
Alih-alih merumuskan strategi konkret untuk memberantas praktik haram tersebut, Aries lebih memilih mengumandangkan pentingnya peningkatan pengabdian di bidang pendidikan. Ironisnya, forum yang dihadiri puluhan pejabat pendidikan itu sunyi senyap dari pembahasan tegas terkait laporan pungli yang kian menjamur di berbagai sekolah.
“Seakan-akan telinga ditutup dan mata dipejamkan,” ungkap sejumlah wali murid dengan nada kecewa. Mereka merasa aspirasi dan jeritan mereka terkait pungli berkedok sumbangan, penjualan seragam, dan iuran siluman lainnya, tak digubris oleh Dinas Pendidikan Provinsi.
Faktanya, praktik pungli di sekolah-sekolah SMA/SMK di Jawa Timur telah berulang kali mencoreng citra pendidikan daerah. Namun, alih-alih mengambil tindakan tegas, Kadindik Jatim justru terkesan lebih nyaman menggaungkan visi besar tanpa menyentuh akar masalah yang menggerogoti kepercayaan publik.
Publik pun bertanya-tanya: Apakah ini sekadar kelalaian, atau justru indikasi pembiaran yang disengaja? Tanpa keberanian untuk menyapu bersih praktik pungli di lingkungan sekolah, semua jargon dedikasi dan komitmen hanya akan terdengar seperti retorika kosong belaka. Janji manis tanpa tindakan nyata.
Penulis : Ciprut laela
