Bojonegoro – Di beberapa daerah Jawa Timur seperti Bojonegoro dan Tuban, tradisi khas colok-colok (juga dikenal sebagai congok-congok) menjadi bagian tak terpisahkan dari malam ke-29 Bulan Ramadan, yang kerap disebut Malem Songo Likur. Kegiatan yang dilakukan menjelang waktu Maghrib ini telah menjadi warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi ini awalnya dilakukan dengan menggunakan obor kecil yang diberi minyak tanah, yang kemudian dinyalakan dan ditempatkan di pojok-pojok rumah maupun sepanjang pinggir jalan. Saat meletakkan obor atau lilin, masyarakat biasanya berteriak bersamaan, “Colok colok malem songo, colok colok malem songo”.
Secara filosofis, colok-colok diyakini sebagai sarana untuk menerangi jalan bagi arwah nenek moyang yang dipercaya pulang ke rumah untuk meminta doa. Selain itu, ada pula makna bahwa tradisi ini menjadi simbol pembakaran dosa dan refleksi diri terhadap perilaku yang telah dilakukan selama ini, sekaligus sebagai harapan akan keberkahan di penghujung bulan suci Ramadan.
Seiring perkembangan zaman, media yang digunakan dalam tradisi ini mengalami kemudahan. Masyarakat kini lebih banyak menggunakan lilin kecil sebagai pengganti obor dengan minyak tanah, tanpa mengurangi makna dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Kegiatan ini biasanya diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat, baik orang tua maupun muda, yang sekaligus menanti waktu berbuka puasa.
Meskipun tidak memiliki faidah secara materiil, tradisi colok-colok Malem Songo tetap dilestarikan karena tidak mengandung unsur kemasharatan dan menjadi bagian identitas budaya lokal yang memperkaya khazanah tradisi Ramadan di Jawa Timur.
Penulis : Ciprut Laela
