BOJONEGORO – Selain soal anggaran yang mencapai Rp1,1 miliar, polemik kegiatan “Harmony 3 Dekade” juga menyasar harga tiket yang ditawarkan. Berdasarkan informasi yang beredar, tiket masuk acara ini dijual dengan harga yang cukup tinggi, bahkan belum termasuk pajak hiburan dan biaya layanan platform.
Dari data yang diperoleh, tiket dibagi dalam beberapa kategori dengan dua tahap penjualan, yaitu Presale 1 dan Presale 2. Pada tahap Presale 1, kategori Tribune dijual seharga Rp89.000, Festival B – Standing Rp179.000, Festival A – Standing Rp269.000, dan VIP – Seating mencapai Rp899.000. Sementara pada tahap Presale 2, harga mengalami kenaikan menjadi Rp94.000, Rp189.000, Rp284.000, dan Rp949.000 secara berurutan.

Yang menjadi sorotan adalah keterangan yang menyatakan bahwa harga tersebut belum termasuk pajak hiburan sebesar 10% dan biaya layanan platform sebesar 5%. Artinya, masyarakat harus membayar lebih mahal lagi dari harga yang tertera untuk bisa menghadiri acara tersebut.
Kondisi ini semakin memperkuat kritik publik yang sebelumnya telah mempertanyakan logika penyelenggaraan. Dengan anggaran yang sudah sangat besar, penerapan tiket berbayar dengan harga yang relatif tinggi dinilai tidak sejalan dengan fungsi sosial BUMD. Apalagi, hingga kini belum ada penjelasan mengenai bagaimana hasil penjualan tiket tersebut akan dialokasikan dan digunakan.
Banyak pihak menilai bahwa harga tiket tersebut terasa memberatkan, terutama bagi masyarakat umum. Di tengah kondisi ekonomi yang masih membutuhkan perhatian, pengalokasian dana besar untuk acara seremonial sekaligus membebankan biaya tiket yang tidak murah kepada publik dinilai kurang bijak dan memerlukan penjelasan yang mendalam dari pihak penyelenggara.
Penulis : Ciprut Laela
