cakrawalahukumnews.com – Aksi demonstrasi sering kali menjadi muara kekecewaan rakyat. Di jalanan, suara-suara yang terbungkam menemukan ruang untuk bergema. Namun, pemandangan yang kerap kali muncul adalah barisan aparat kepolisian yang seolah menjadi tembok penghalang antara rakyat dan penguasa. Ironisnya, tak jarang polisi justru menjadi “tameng” bagi para “tikus berdasi” yang duduk nyaman di kursi empuk kekuasaan, sambil tertawa melihat drama yang terjadi, Sabtu (30/08/2025).
Mengapa saya menyebut mereka “tikus berdasi”? Karena merekalah para koruptor, para pengkhianat amanah rakyat, yang tega menjarah uang negara demi kepentingan pribadi dan kelompok. Mereka adalah dalang di balik layar yang menyebabkan kesengsaraan banyak orang. Sementara itu, para polisi yang seharusnya melindungi rakyat, justru berdiri di barisan depan untuk melindungi para pelaku kejahatan ini.
Tentu, tidak semua aparat kepolisian seperti itu. Banyak di antara mereka yang memiliki integritas dan niat baik untuk melayani masyarakat. Namun, sistem yang korup dan tekanan dari atasan sering kali memaksa mereka untuk bertindak di luar hati nurani. Mereka terjebak dalam lingkaran setan kekuasaan yang lebih mementingkan kepentingan para elite daripada kepentingan rakyat.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Pertama, kita harus terus menyuarakan kebenaran dan melawan segala bentuk ketidakadilan. Jangan biarkan suara kita dibungkam oleh intimidasi dan kekerasan. Kedua, kita harus mendukung aparat kepolisian yang berintegritas dan berani melawan arus. Berikan mereka dukungan moral dan sosial agar mereka tidak merasa sendirian dalam perjuangan melawan korupsi. Ketiga, kita harus terus mengawasi dan mengkritisi kinerja pemerintah dan aparat penegak hukum. Jangan biarkan mereka bertindak sewenang-wenang dan melanggar hukum.
Pada akhirnya, perubahan hanya bisa terjadi jika kita semua bersatu dan bergerak bersama. Jangan biarkan para “tikus berdasi” terus tertawa di atas penderitaan rakyat. Saatnya kita merebut kembali hak-hak kita dan membangun Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.
Penulis : Ciprut Laela
