Daerah  

Proyek Jalan Lingkar Selatan Bojonegoro Siap Masuk Tahap Desain Rinci, Target Atasi Kemacetan dan Dorong Ekonomi  

admin
1772532401606

BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro gencar mempersiapkan proyek strategis Jalan Lingkar Selatan (JLS) yang diharapkan mampu mengatasi kemacetan kronis di kawasan perkotaan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di seluruh wilayah.

Keseriusan pemerintah dalam mewujudkan proyek ini terlihat dari pemaparan hasil studi kelayakan pembangunan JLS yang terintegrasi dengan flyover, yang disampaikan oleh tim Pusat Kajian Lingkungan, Kawasan, dan Fasilitas Terpadu (LKFT) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM). Acara pemaparan dilakukan pada Senin (18/2/2026) lalu di Ruang Angling Dharma Kantor Pemkab Bojonegoro.

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono yang menghadiri acara tersebut menegaskan komitmen untuk mengembangkan konsep proyek yang cerdas, hemat biaya, namun tetap memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

“Kami menginginkan konsep yang efisien dan minimalis, namun memiliki wawasan yang jauh ke depan. Hal ini mencakup penyusunan layout jalur yang lebih rinci agar penggunaan lahan menjadi optimal dan struktur bangunan lebih ekonomis,” ujar Bupati Wahono.

Kepala Bidang (Kabid) Jalan pada Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang (DPU BM-PR) Kabupaten Bojonegoro, Iwan Maulana, menjelaskan bahwa setelah menyelesaikan studi kelayakan sepanjang tahun 2025, tahun 2026 menjadi tahapan krusial dalam perencanaan proyek, Selasa (03/03/2026).

“Pada tahun 2026 ini, kami akan melanjutkan dengan penyusunan Detailed Engineering Design (DED) untuk keseluruhan ruas JLS beserta flyover dan jembatan pendukungnya. Secara paralel, kami juga sedang menyiapkan berbagai dokumen pendukung, antara lain perencanaan pengadaan lahan, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), serta Analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (ANDALALIN),” jelas Iwan.

Rute JLS direncanakan berada di sisi selatan rel kereta api, mengingat akses masuk kota dari arah selatan sering terhambat akibat adanya perlintasan sebidang. Oleh karena itu, proyek ini dirancang terintegrasi dengan flyover, yang akan dijadikan jalur utama bagi kendaraan berat dan muatan besar.

Tim yang dipimpin oleh Prof. Ali Awaluddin dari LKFT UGM menyajikan analisis mendalam yang mencakup berbagai aspek, mulai dari teknis, sosial, ekonomi, hingga lingkungan. Hasil pemodelan lalu lintas menunjukkan potensi besar untuk mengurangi beban kendaraan di kawasan pusat kota, sehingga arus lalu lintas dapat berjalan lebih lancar.

Dua titik fokus utama yang akan menjadi prioritas penanganan adalah simpang Bundaran Jetak dan simpang Proliman Kapas, yang selama ini menjadi titik kemacetan utama akibat tingginya volume kendaraan berat dan keterbatasan fasilitas pendukung seperti area istirahat.

Penulis : Ciprut Laela 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *