Bojonegoro, Rabu (20/08/2025) – Banjir masih menjadi momok menakutkan bagi warga Bojonegoro setiap kali musim hujan tiba. Meski berbagai upaya penanganan telah dikerahkan, efektivitasnya masih jauh dari harapan. Kondisi geografis dan perubahan lingkungan seringkali dijadikan kambing hitam, namun apakah ini sepenuhnya bisa teratasi dengan lambatnya penanganan?
Fokus utama penanganan banjir kali ini tertuju pada Kali Afur, urat nadi drainase yang menghubungkan pemukiman dengan sungai utama. Pendangkalan akibat lumpur dan sampah, serta drainase yang tidak optimal, menjadi masalah klasik yang seolah tak pernah menemukan solusi permanen.
PLT Kepala Bidang O&P Dinas PU SDA Bojonegoro, Galuh, menjelaskan pentingnya Kali Afur sebagai penampung air dari pemukiman sebelum dialirkan ke sungai. Normalisasi manual terus dilakukan dengan menerjunkan 23 personel di berbagai titik, termasuk Kali Afur Ledok, Ngrowo, Karang pacar, Banjarejo dan Sukorejo,
Namun, upaya ini terbentur berbagai kendala. Kondisi tanah yang labil, padatnya pemukiman, dan akses terbatas membuat penggunaan alat berat menjadi sulit. Perubahan fungsi lahan dari tambak menjadi pemukiman juga memperparah masalah banjir.
“Tim kami terus berupaya memaksimalkan tenaga manual untuk membersihkan Kali Afur. Setiap hari, tim kami memantau kondisi di lapangan dan segera bertindak jika ada sumbatan,” ujar Galuh.
Selain normalisasi Kali Afur, pembongkaran cross drain di Tamrin juga dilakukan untuk memperlancar aliran air. Koordinasi dengan berbagai pihak terus digencarkan. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: mengapa banjir masih terus terjadi?
Meskipun berbagai langkah telah diambil, masalah banjir di Bojonegoro belum sepenuhnya teratasi. Masyarakat tentu berharap lebih dari sekadar “upaya berkelanjutan”. Evaluasi komprehensif terhadap dampak pembangunan, penataan ruang yang tepat, peningkatan kapasitas drainase, sosialisasi kepada masyarakat, dan koordinasi lintas sektor yang lebih baik adalah kunci untuk memutus rantai banjir yang seolah tak berujung ini.
Bojonegoro butuh solusi nyata, bukan sekadar janji dan alasan.
Penulis : Ciprut laela
